Total Tayangan Halaman

Minggu, 01 Januari 2017

TUGAS CERPEN UJIAN PRAKTIK BAHASA INDONESIA

Pilihan kedua
Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar.  ….
"Didiiiiinnnnn!" Tiba-tiba ia seperi memanggil sebuah nama. Melengking, keras. Namun, kemudian hilang ditelan parau. bla, bla, bla ... .

999 BURUNG KERTAS

Pagi ini aroma tanah masih sangat tercium menandakan hujan baru saja turun malam tadi. Hujan yang tiada henti membawa perasaan yang berbeda di hati Anna. Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar. Fisik dan pikirannya lelah menerawang jauh memikirkan masa depannya. Anna adalah seorang jurnalis salah satu perusahaan pers di Magelang yang membuatnya harus berpindah-pindah tempat untuk mencari berita.
Beberapa hari lalu Anna mendapat kabar dari bosnya di kantor jika ia akan dipindahkan ke Bandung bulan depan. Ia mengingat lagi percakapan dengan bosnya dan sempat menanyakan alasan mengapa Ia akan dipindahkan ke Bandung.
”Prestasi kamu bagus dan terus meningkat. Kantor di Bandung butuh orang sing seperti kamu, jadi saya mengusulkan kamu saja”, jawab Bosnya.
”Tetapi kenapa tidak ada pemberitahuan sebelumnya, Pak? Saya malah ga tau apa-apa”, jelas Anna.
            Tidak semudah itu meninggalkan Magelang Anna jelas tidak rela jika harus pergi dari kota ini, bagi Anna Magelang adalah rumah yang sangat nyaman. Akan ada banyak hal yang akan dirindukan di kota ini seperti udaranya, makanannya, masyarakatnya, keluarganya, teman-temannya, dan seseorang yang sangat ia sayangi. Hari ini Anna memiliki janji untuk bertemu seseorang itu. Beranjaklah Anna dari sudut kamar dan berjalan menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi ia melihat wajahnya di cermin. Wajahnya tampak kacau dan lusuh. Lalu ia membasuh muka dan segera mandi.
***
            Jarum jam menunjukkan pukul 10.16, pagi ini Magelang sedikit mendung. Anna memakai celana jeans hitam, kaos polos berwarna merah gelap, sepatu hitam, serta membawa cardigan abu-abu kesayangannya. Anna menunggu seseorang sejak satu jam lalu di salah satu tempat favoritnya di Magelang, Mega Kuliner Magelang.
            Dari kejauhan Anna melihat seorang pria yang memakai kemeja abu-abu dan celana jeans. Senyum pria itu dari kejauhan langsung membuat Anna bahagia seketika.
"Didiiiiinnnnn!" Tiba-tiba ia seperti memanggil sebuah nama. Melengking, keras. Namun, kemudian hilang ditelan parau.
“Anna, maaf aku telat. Udah lama nunggu ya? Udah pesan makan? Aku pesan sama kayak kamu aja ya”, jawab pria itu yang langsung memeluk Anna.
            Didin adalah pacar Anna, mereka sudah berpacaran sejak lama. Salah satu faktor yang membuat Anna berat meninggalkan kota ini adalah Didin. Sudah beberapa bulan terakhir hubungannya dengan Didin sedikit renggang karena suatu masalah. Alasan Anna ingin bertemu Didin hari ini adalah soal kepindahannya ke Bandung.
“Din, bulan depan aku bakal dipindahin ke Bandung”, kata Anna yang memecah keheningan beberapa detik.
“Jadi karena itu kamu pengen kita ketemu hari ini? Aku ga akan nyampuri urusan kerja kamu, Na. Aku pengen kamu kerja yang bener gausah mikirin aku. Dari dulu kamu kan pengen kerja di bidang jurnalistik. Sekarang udah dapet, dan ada kesempatan emas. Ya diambil”, jelas Didin.
“Din, kamu masih mikir kalo kita ga bias lanjut?  Aku mohon, kita bisa nyelesaiin ini semua. Ndak ada yang ndak bisa. Ga sampai setengah bulan lagi aku udah berangkat”, jawab Anna yang mulai sedikit emosional.
“Na, kamu harus ngerti masalah ini. Aku pengen kamu fokus kerja sama fokus ke kebahagiaan kamu”, sambung Didin yang mengakhiri percakapan hari itu.
***
            Sejak hari pertemuan terakhirnya dengan Didin, Anna semakin tidak bisa meninggalkan Magelang. Ia semakin tidak fokus bekerja. Saat sedang menyelesaikan menulis berita, Anna mendengar teman kerjanya membicarakan tentang seorang pria yang membuat 1000 burung kertas untuk anaknya yang mengidap suatu penyakit, jika berhasil membuat 1000 burung kertas maka permohonannya akan terkabul. Dan pria itu berhasil membuat 1000 burung kertas untuk anaknya. Walaupun tidak sepenuhnya anaknya sembuh tetapi 1000 burung kertas itu membuat harapan baru bagi anak dan ayahnya.
“1000 burung kertas? Beneran ada 1000, La?, potong Anna saat temannya, Lala bercerita.
“Ih Anna kok motong sih. Kowe ki kebiasaan. Iya ada 1000, katanya juga sih. Aku kan bukan yang buat”, jawab Lala.
            Anna tertarik dengan cerita itu dan ingin membuat 1000 burung kertas. Untuknya, 1000 burung kertas itu akan ia berikan kepada Didin, saat Anna akan berangkat ke Bandung sebagai bukti perasaannya.
***
            Sepuluh hari lagi Anna akan berangkat ke Bandung, dan ia telah membuat 141 burung kertas dalam satu hari. Setiap waktu senggangnya di kantor ia habiskan dengan membuat burung kertas.
            Begitu juga hari-hari berikutnya ia habiskan dengan membuat burung kertas. Selama itu juga Anna tidak bertemu lagi dengan Didin, karena kesibukan masing-masing.
            Anna menjadi sering pergi berkeliling Magelang, melihat setiap tempat dengan sepenuh hati. Melihat setiap kenangan yang tercipta dari setiap tempat. Ia menyempatkan diri untuk berolahraga di Lapangan Rindam. Ia lari lima putaran. Setelah itu ia beristirahat di bawah pohon rindang sambil meminum air mineralnya.
***
            Hari yang tidak diharapkan Anna pun tiba. Hari di mana ia harus pindah ke Bandung, entah kapan akan kembali ke Magelang. Dan di hari ini burung kertasnya masih kurang tiga buah. Dalam perjalanannya ke Terminal Soekarno Hatta Magelang ia berhasil membuat dua burung kertas. Masih kurang satu burung kertas lagi. Burung kertas lainnya ia taruh di dalam kotak yang cukup besar dan ia hias.
            Didin akan datang dan menemani Anna sampai Anna berangkat. Anna sampai terlebih dahulu di terminal. Saat ia akan menyelesaikan burung kertas terakhirnya, Didin datang dan memanggil Anna.
“Anna! Belum berangkat kan?”, Tanya Didin.
“Belum kok, Din. Masih sekitar lima belas menit lagi”, jawab Anna tanpa menoleh ke Didin dan masih mencoba menyelesaikan burung kertasnya.
“Aku mau ngomong”, kata Didin.
“Aku juga”, jawab Anna.
“Kamu wae dulu”, kata Didin yang sedikit terkejut.
“Aku mau ngasih kamu 1000 burung kertas ini. Masih kurang satu, aku lagi nyelesaiin. Aku buat ini, sebagai lambang kalo aku bener-bener punya perasaan yang lebih sama kamu. Walaupun kamu bilang kita ga bisa bareng lagi. Kita pacaran udah lumayan lama, dan aku tau hubungan ini ga akan bisa lanjut. Dengan 1000 burung kertas ini aku harap, harapanku ga akan ilang”, jelas Anna yang sekarang berhenti menyelesaikan burung kertas terakhirnya dan menatap Didin.
“Na, kamu tau kan dari awal kita udah ga seharusnya pacaran. Kamu sepupuku. Dan kita ga bisa lebih dari itu. Maaf, Na. Aku ga bisa. Sekarang aku harap kamu bisa nemuin orang yang lebih baik dari aku di Bandung. Kalo ada apa-apa bilang aku. Aku tetep kakak sepupumu, aku bakal ngelindungi kamu sebagai adikku”, jelas Didin.
            Beberapa detik setelah itu, bus yang membawa Anna ke Bandung telah siap berangkat. Dan Anna mau tidak mau harus naik ke dalam bus. Ia tidak sanggup menyelesaikan burung kertas yang ke 1000. Harapannya sia-sia. Kotak yang berisi 999 burung kertas itupun ia berikan kepada anak-anak terminal atas saran Didin.
            Anna sudah tahu sejak awal ia dan Didin pacaran, hubungan mereka tidak akan bisa berhasil karena mereka adalah sepupu. Benar kata Didin, bahwa Anna harus fokus dengan pekerjaannya dan menemukan pasangan yang lebih tepat.
“Selamat tinggal Magelang, selamat datang Bandung. Harapan baru untuk hati yang baru”, batin Anna.