Pilihan kedua
Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya
nanar. ….
"Didiiiiinnnnn!" Tiba-tiba ia seperi
memanggil sebuah nama. Melengking, keras. Namun, kemudian hilang ditelan parau.
bla, bla, bla ... .
999 BURUNG KERTAS
Pagi ini aroma tanah masih sangat tercium menandakan
hujan baru saja turun malam tadi. Hujan yang tiada henti membawa perasaan yang
berbeda di hati Anna. Wanita muda itu terkapar di sudut kamar. Matanya nanar. Fisik
dan pikirannya lelah menerawang jauh memikirkan masa
depannya. Anna adalah seorang jurnalis salah satu perusahaan pers di Magelang
yang membuatnya harus berpindah-pindah tempat untuk mencari berita.
Beberapa hari lalu Anna mendapat kabar dari bosnya di
kantor jika ia akan dipindahkan ke Bandung bulan depan. Ia mengingat lagi
percakapan dengan bosnya dan sempat menanyakan alasan mengapa Ia akan
dipindahkan ke Bandung.
”Prestasi kamu bagus dan terus meningkat. Kantor di
Bandung butuh orang sing seperti kamu,
jadi saya mengusulkan kamu saja”, jawab Bosnya.
”Tetapi kenapa tidak ada pemberitahuan sebelumnya,
Pak? Saya malah ga tau apa-apa”, jelas Anna.
Tidak
semudah itu meninggalkan Magelang Anna jelas tidak rela jika harus pergi dari
kota ini, bagi Anna Magelang adalah rumah yang sangat nyaman. Akan ada banyak
hal yang akan dirindukan di kota ini seperti udaranya, makanannya, masyarakatnya,
keluarganya, teman-temannya, dan seseorang yang sangat ia sayangi. Hari ini
Anna memiliki janji untuk bertemu seseorang itu. Beranjaklah Anna dari sudut
kamar dan berjalan menuju kamar mandi. Di dalam kamar mandi ia melihat wajahnya
di cermin. Wajahnya tampak kacau dan lusuh. Lalu ia membasuh muka dan segera
mandi.
***
Jarum
jam menunjukkan pukul 10.16, pagi ini Magelang sedikit mendung. Anna memakai
celana jeans hitam, kaos polos berwarna merah gelap, sepatu hitam, serta
membawa cardigan abu-abu kesayangannya. Anna menunggu seseorang sejak satu jam
lalu di salah satu tempat favoritnya di Magelang, Mega Kuliner Magelang.
Dari
kejauhan Anna melihat seorang pria yang memakai kemeja abu-abu dan celana jeans.
Senyum pria itu dari kejauhan langsung membuat Anna bahagia seketika.
"Didiiiiinnnnn!" Tiba-tiba ia seperti memanggil
sebuah nama. Melengking, keras. Namun, kemudian hilang ditelan parau.
“Anna, maaf aku telat. Udah lama nunggu ya? Udah pesan
makan? Aku pesan sama kayak kamu aja ya”, jawab pria itu yang langsung memeluk
Anna.
Didin
adalah pacar Anna, mereka sudah berpacaran sejak lama. Salah satu faktor yang
membuat Anna berat meninggalkan kota ini adalah Didin. Sudah beberapa bulan
terakhir hubungannya dengan Didin sedikit renggang karena suatu masalah. Alasan
Anna ingin bertemu Didin hari ini adalah soal kepindahannya ke Bandung.
“Din, bulan depan aku bakal dipindahin ke Bandung”,
kata Anna yang memecah keheningan beberapa detik.
“Jadi karena itu kamu pengen kita ketemu hari ini? Aku
ga akan nyampuri urusan kerja kamu, Na. Aku pengen kamu kerja yang bener gausah
mikirin aku. Dari dulu kamu kan pengen kerja di bidang jurnalistik. Sekarang udah
dapet, dan ada kesempatan emas. Ya diambil”, jelas Didin.
“Din, kamu masih mikir kalo kita ga bias lanjut? Aku mohon, kita bisa nyelesaiin ini semua. Ndak
ada yang ndak bisa. Ga sampai setengah bulan lagi aku udah berangkat”, jawab
Anna yang mulai sedikit emosional.
“Na, kamu harus ngerti masalah ini. Aku pengen kamu fokus
kerja sama fokus ke kebahagiaan kamu”, sambung Didin yang mengakhiri percakapan
hari itu.
***
Sejak
hari pertemuan terakhirnya dengan Didin, Anna semakin tidak bisa meninggalkan
Magelang. Ia semakin tidak fokus bekerja. Saat sedang menyelesaikan menulis
berita, Anna mendengar teman kerjanya membicarakan tentang seorang pria yang
membuat 1000 burung kertas untuk anaknya yang mengidap suatu penyakit, jika
berhasil membuat 1000 burung kertas maka permohonannya akan terkabul. Dan pria
itu berhasil membuat 1000 burung kertas untuk anaknya. Walaupun tidak
sepenuhnya anaknya sembuh tetapi 1000 burung kertas itu membuat harapan baru
bagi anak dan ayahnya.
“1000 burung kertas? Beneran ada 1000, La?, potong
Anna saat temannya, Lala bercerita.
“Ih Anna kok motong sih. Kowe ki kebiasaan. Iya ada
1000, katanya juga sih. Aku kan bukan yang buat”, jawab Lala.
Anna
tertarik dengan cerita itu dan ingin membuat 1000 burung kertas. Untuknya, 1000
burung kertas itu akan ia berikan kepada Didin, saat Anna akan berangkat ke Bandung
sebagai bukti perasaannya.
***
Sepuluh
hari lagi Anna akan berangkat ke Bandung, dan ia telah membuat 141 burung
kertas dalam satu hari. Setiap waktu senggangnya di kantor ia habiskan dengan
membuat burung kertas.
Begitu
juga hari-hari berikutnya ia habiskan dengan membuat burung kertas. Selama itu
juga Anna tidak bertemu lagi dengan Didin, karena kesibukan masing-masing.
Anna
menjadi sering pergi berkeliling Magelang, melihat setiap tempat dengan sepenuh
hati. Melihat setiap kenangan yang tercipta dari setiap tempat. Ia menyempatkan
diri untuk berolahraga di Lapangan Rindam. Ia lari lima putaran. Setelah itu ia
beristirahat di bawah pohon rindang sambil meminum air mineralnya.
***
Hari
yang tidak diharapkan Anna pun tiba. Hari di mana ia harus pindah ke Bandung,
entah kapan akan kembali ke Magelang. Dan di hari ini burung kertasnya masih
kurang tiga buah. Dalam perjalanannya ke Terminal Soekarno Hatta Magelang ia
berhasil membuat dua burung kertas. Masih kurang satu burung kertas lagi.
Burung kertas lainnya ia taruh di dalam kotak yang cukup besar dan ia hias.
Didin
akan datang dan menemani Anna sampai Anna berangkat. Anna sampai terlebih
dahulu di terminal. Saat ia akan menyelesaikan burung kertas terakhirnya, Didin
datang dan memanggil Anna.
“Anna! Belum berangkat kan?”, Tanya Didin.
“Belum kok, Din. Masih sekitar lima belas menit lagi”,
jawab Anna tanpa menoleh ke Didin dan masih mencoba menyelesaikan burung
kertasnya.
“Aku mau ngomong”, kata Didin.
“Aku juga”, jawab Anna.
“Kamu wae dulu”, kata Didin yang sedikit terkejut.
“Aku mau ngasih kamu 1000 burung kertas ini. Masih kurang
satu, aku lagi nyelesaiin. Aku buat ini, sebagai lambang kalo aku bener-bener
punya perasaan yang lebih sama kamu. Walaupun kamu bilang kita ga bisa bareng
lagi. Kita pacaran udah lumayan lama, dan aku tau hubungan ini ga akan bisa lanjut.
Dengan 1000 burung kertas ini aku harap, harapanku ga akan ilang”, jelas Anna
yang sekarang berhenti menyelesaikan burung kertas terakhirnya dan menatap
Didin.
“Na, kamu tau kan dari awal kita udah ga seharusnya
pacaran. Kamu sepupuku. Dan kita ga bisa lebih dari itu. Maaf, Na. Aku ga bisa.
Sekarang aku harap kamu bisa nemuin orang yang lebih baik dari aku di Bandung.
Kalo ada apa-apa bilang aku. Aku tetep kakak sepupumu, aku bakal ngelindungi
kamu sebagai adikku”, jelas Didin.
Beberapa
detik setelah itu, bus yang membawa Anna ke Bandung telah siap berangkat. Dan Anna
mau tidak mau harus naik ke dalam bus. Ia tidak sanggup menyelesaikan burung
kertas yang ke 1000. Harapannya sia-sia. Kotak yang berisi 999 burung kertas
itupun ia berikan kepada anak-anak terminal atas saran Didin.
Anna
sudah tahu sejak awal ia dan Didin pacaran, hubungan mereka tidak akan bisa
berhasil karena mereka adalah sepupu. Benar kata Didin, bahwa Anna harus fokus
dengan pekerjaannya dan menemukan pasangan yang lebih tepat.
“Selamat tinggal Magelang, selamat datang Bandung. Harapan
baru untuk hati yang baru”, batin Anna.
Terima kasih, cerpen yang bagus. Akan lebih baik apabila Anda tetap menjaga "kebakuan" bahasa yang Anda gunakan.
BalasHapusApalagi kalau cerita itu berlatar di Kota Magelang. Jadi, tidak perlu ke"Jakarta-jakartaan".
“Jadi karena itu kamu pengen kita ketemu hari ini? Aku ga akan nyampuri urusan kerja kamu, Na. Aku pengen kamu kerja yang bener gausah mikirin aku. Dari dulu kamu kan pengen kerja di bidang jurnalistik. Sekarang udah dapet, dan ada kesempatan emas. Ya diambil”, jelas Didin.
“Din, kamu masih mikir kalo kita ga bias lanjut? Aku mohon, kita bisa nyelesaiin ini semua. Ndak ada yang ndak bisa. Ga sampai setengah bulan lagi aku udah berangkat”, jawab Anna yang mulai sedikit emosional.
“Na, kamu harus ngerti masalah ini. Aku pengen kamu fokus kerja sama fokus ke kebahagiaan kamu”, sambung Didin yang mengakhiri percakapan hari itu.